Nefritis

Nefritis
Nefritis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan ginjal. Selain jantung, ginjal adalah salah satu organ tubuh yang paling giat bekerja. Setiap harinya, ginjal menyaring sekitar 50 galon darah, 5 galon di antaranya adalah kotoran yang dikeluarkan dari tubuh melalui urin.
Ketika ginjal berfungsi dengan normal, bagian tubuh lainnya akan terus mendapatkan darah “bersih” yang kaya oksigen. Namun, ketika mengalami peradangan, ginjal tidak akan dapat menyaring darah dengan baik. Apabila tidak diobati, ginjal dapat masuk ke masa kritis dan berhenti bekerja. Gagal ginjal merupakan penyakit yang serius, karena kotoran akan tertimbun di dalam darah dan meracuni organ tubuh lainnya.
Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, pasien harus menjalani cuci darah (dialisis), suatu tindakan yang menggunakan alat untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun, pasien tidak akan dapat bertahan hanya dengan dialisis. Nantinya, ginjal harus diganti dengan ginjal yang sehat melalui transplantasi ginjal.


Nefritis dibedakan menjadi beberapa jenis. Setiap jenisnya dibedakan berdasarkan pada bagian ginjal yang mengalami nefritis. Tiga bagian utama yang biasanya terkena nefritis adalah glomerulus, tubule, dan jaringan renal interstisial.
  •  
     Glomerulonefritis – Penyakit ini adalah peradangan pada pembuluh kapiler kecil di dalam ginjal yang bernama glomerulus, yang berfungsi untuk menyaring darah. Ketika mengalami peradangan, glomerulus tidak akan dapat menyaring darah dengan baik.
  •  
     Nefritis Interstisial – Apabila peradangan tidak mengenai glomerulus, kemungkinan besar peradangan akan terjadi pada bagian di antara nefron yang bernama insterstitium renal, sehingga menyebabkan nefritis interstisial, terkadang dikenal sebagai nefritis tubulointerstisial.
  •  
     Pyelonephritis – Kotoran yang dikeluarkan oleh darah akan dihantarkan ke kandung kemih melalu tabung yang bernama ureter. Pada beberapa kasus, peradangan akan mulai timbul di kandung kemih dan menjalar ke ureter sampai ginjal. Kondisi ini dikenal sebagai pyelonephritis.

Penyebab Nefritis

Setiap jenis nefritis memiliki penyebab tersendiri.
Sampai saat ini, penyebab pasti dari glomerulonefritis masih belum diketahui. Namun, para dokter dan peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang kemungkinan menyebabkan infeksi, misalnya penyakit sistem kekebalan tubuh, riwayat kanker, abses yang timbul di bagian tubuh lainnya dan menyebar ke ginjal melalui peredaran darah.
Penyebab utama pyelonephritis adalah bakteri escherichia coli (e. coli). E. coli ada di usus dan dapat menyebabkan infeksi di ginjal. Selain e. coli, penyebab lain pyelonephritis adalah batu ginjal, penggunaan sistoskop untuk memeriksa bagian dalam kandung kemih, dan operasi pada kandung kemih, ureter, atau ginjal.
Nefritis Interstisial kebanyakan disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obatan tertentu. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang dan kadar potasium darah yang rendah.
Selain mengetahui penyebab nefritis, hal penting lainnya yang juga harus dilakukan adalah mencari tahu apakah Anda berisiko terkena nefritis. Faktor risiko utama nefritis adalah:

Gejala Utama Nefritis

Walaupun nefritis dibedakan menjadi berbagai jenis dan disebabkan oleh berbagai faktor, sebagian besar gejala yang ditimbulkan tidak berbeda. Gejala nefritis yang paling umum adalah:
  • Demam
  • Tekanan darah tinggi
  • Urin yang keruh dan mengandung darah atau nanah
  • {Nyeri perut](https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/nyeri-perut) yang menjalar sampai ke bagian ginjal
  • Sering buang air kecil, namun kesulitan setiap buang air kecil
  • Pembengkakan (edema), terutama di ujung atas dan bawah wajah
  • Sering muntah
Gejala-gejala di atas tidak hanya sering terjadi pada semua jenis nefritis, namun juga pada penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Apabila Anda sering mengalami gejala tersebut, Anda harus melakukan konsultasi dengan dokter Anda.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Penyedia layanan kesehatan utama Anda adalah orang pertama yang harus Anda temui untuk konsultasi mengenai gejala yang Anda alami. Karena gejala-gejala ini juga terjadi pada berbagai penyakit lainnya, dokter Anda harus melakukan beberapa tes serta memeriksa riwayat kesehatan dan riwayat penyakit keluarga Anda sebelum membuat diagnosis.
Apabila dokter Anda mencurigai adanya nefritis atau apabila gejala Anda sangat berkaitan dengan gangguan ginjal, kemungkinan Anda akan dirujuk pada ahli urologi.
Ahli urologi akan meminta Anda menjalani tes dan pemeriksaan darah untuk mengonfirmasi keberadaan nefritis atau untuk mengetahui penyebab pasti dari nefritis. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
  • Biopsi ginjal – sampel jaringan ginjal akan diambil dan dipelajari di laboratorium
  • CT Scan – pengambilan gambar yang terperinci dari perut dan panggul Anda untuk membantu dokter mendiagnosis kondisi Anda
  • Tes urin dan darah – adanya bakteri dan infeksi akan menyebabkan hasil tes urin dan darah yang tidak normal
Setelah dokter menentukan adanya nefritis dan telah berhasil mendiagnosis penyebab pasti dari nefritis, Anda akan menjalani pengobatan. Kemungkinan besar, dokter akan mengobati penyebab utama dari nefritis. Apabila penyebabnya tidak dapat diketahui, Anda akan diberi obat-obat tertentu untuk mengobati infeksi ginjal.
Obat-obatan yang paling umum digunakan dalam pengobatan infeksi ginjal adalah obat penghilang rasa sakit dan antibiotik. Obat untuk mengatur tekanan darah juga akan diberikan bagi pasien yang memiliki tekanan darah tinggi. Apabila infeksi disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif atau kelainan pada sistem kekebalan tubuh, pasien akan diberi obat penekan sistem kekebalan tubuh, misalnya kortikosteroid.
Selain menjalani pengobatan, pasien juga harus melakukan perubahan gaya hidup secara drastis untuk membantu mereka melawan infeksi ginjal. Perubahan tersebut meliputi meningkatkan konsumsi air dan mengurangi konsumsi sodium. Air dapat membantu kinerja ginjal dan menghilangkan kotoran dari darah. Mengurangi sodium dapat mengurangi risiko penimbunan air, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti edema (pembengkakan) pada berbagai bagian tubuh dan wajah. 
https://www.docdoc.com/id/info/condition/radang-ginjal

batu ginjal

Batu Ginjal


Hasil gambar untuk batu ginjal

Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah suatu kondisi ketika material keras yang menyerupai batu terbentuk di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam darah yang disaring oleh ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu.
Pada sebagian besar kasus, penyakit batu ginjal dialami oleh orang-orang yang berusia 30-60 tahun. Diperkirakan 10 persen wanita dan 15 persen pria pernah mengalami kondisi ini selama hidup mereka.
Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan jenisnya, batu ginjal dibagi menjadi empat, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.

Gejala batu ginjal

Gejala akibat batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar dari tubuh secara alami melalui ureter dengan mudah. Ureter adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.
Gejala akibat batu ginjal baru bisa terasa jika batu berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter. Batu yang besar akan bergesekan dengan lapisan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Oleh sebab itu, urine kadang bisa mengandung darah. Selain mengiritasi ureter, batu ginjal juga bisa tersangkut di dalam ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urine) sehingga terjadi akumulasi bakteri dan bisa menyebabkan pembengkakan akibat infeksi. Gejala batu ginjal yang bisa muncul apabila batu bergesekan dengan ureter di antaranya adalah nyeri pada pinggang, perut bagian bawah atau samping, dan selangkangan yang dapat disertai mual.
Sedangkan gejala yang bisa dirasakan jika penderita batu ginjal mengalami infeksi ginjal di antaranya urine tampak keruh dan berbau tidak sedap, badan lemas, menggigil, dan demam tinggi.

Penderita batu ginjal di Indonesia

Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) pada tahun 2013, diperkirakan prevalensi penderita yang terdiagnosa batu ginjal untuk umur di atas 15 tahun adalah sebesar 0,6 persen dari total penduduk Indonesia. Lima provinsi yang menduduki posisi tertinggi masalah penyakit batu ginjal di antaranya adalah DI Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

Diagnosis batu ginjal

Dalam mendiagnosis batu ginjal, biasanya pertama-tama dokter akan menanyakan pada pasien mengenai seputar gejala-gejala yang telah dialami. Dokter juga bisa menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
Setelah keterangan dikumpulkan, dokter biasanya akan melakukan sejumlah tes untuk memperkuat bukti. Tes-tes tersebut bisa berupa pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG, rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU)

Pengobatan batu ginjal

Pengobatan penyakit batu ginjal yang dilakukan tergantung kepada ukuran dari batu. Jika batu ginjal masih tergolong kecil atau menengah, serta masih dapat melewati saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk minum air putih saja sesuai takaran yang disarankan. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya. Apabila gejala yang dirasakan oleh pasien cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, misalnya acetaminophen, ibuprofen atau obat anti radang non steroid.
Penanganan batu ginjal yang dengan prosedur khusus (misalnya dengan energi laser, ultrasound, atau operasi) biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien.

Pencegahan batu ginjal

Cara mencegah batu ginjal sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu minum cukup air putih tiap hari dan membatasi konsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti zat oksalat, suplemen kalsium, dan protein hewani.
Selain dengan minum cukup air dan membatasi asupan zat-zat tertentu, pencegahanbatu ginjal juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Biasanya langkah ini dianjurkan untuk mencegah kambuh bagi mereka yang sebelumnya pernah menderita batu ginjal.
http://www.alodokter.com/batu-ginjal

albuminuria

Albuminuria

Pada masyarakat awam penyakit ginjal yang sering didengar dan dialami antara lain batu ginjal,kanker ginjal dan gagal ginjal. Namun ada beberapa penyakit lainnya yang dapat menyerang ginjal dan meskipun hanya sedikt penderitanya bukan berarti penyakit ini tidak berbahaya. Albuminuria salah satunya. Albuminuria adalah suatu kondisi dimana protein albumin yang terdapat di dalam urin jumlahnya berlebih. Seperti diketahui bahwa tubuh kita memerlukan berbagai macam zat zat untuk membuat tubuh kita dapat beraktivitas dengan baik. Tubuh kita memerlukan mineral,garam,zat besi, vitamin A B C D E, karbohidrat, lemak dan protein. Zat zat tersebut kita butuhkan dalam keadaan yang cukup tidak berlebih atau berkurang. Zat zat tersebut dikonversi menjadi energi yang membuat tubuh kita bersemangat. Ketika tubuh kita kekurangan zat zat tersebut maka penyakit akan mudah datang dan tubuh kita akan mudah sekali lemah. Zat zat tersebut bisa kita dapatkan melalui makanan yang kita konsumsi sehari hari.


Penyebab Albuminuria
Fungsi ginjal adalah untuk menyaring dan memilih mana zat zat yang akan dibuang keluar dari tubuh manusia dan zat zat apa yang masih berguna bagi tubuh manusia. Ketika fungsi ginjal ini rusak maka ginjal tidak mampu menyaring zat zat tersebut sehingga zat zat yang seharusnya terbuang dari dalam tubuh justru akan mengendap di dalam tubuh dan zat zat masih berguna bagi tubuh dikeluarkan dari dalam tubuh bersama urin. Albumin dan protein merupakan zat zat yang masih berguna bagi tubuh manusia, rusaknya fungsi ginjal dalam penyaringan membuat tubuh manusia kekurangan banyak protein dan kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan bahkan dapat menyebabkan gagal ginjal. Berikut ini berbagai macam penyebab terjadinya Albuminuria. (Baca juga : kebiasaan penyebab gagal ginjal  )merembesnya cairan yang terdapat didalam darah yang akan keluar menuju ke jaringan yang lain. Albumin itu sendiri adalah protein utama yang terdapat pada darah sementara protein merupakan senyawa komples yang tersebar di hampir seluruh bagian tubuh kita hingga bagian kecil seperti kuku. Protein yang terdapat dalam aliran darah manusia memiliki berbagai fungsi penting diantaranya untuk proses pembekuan darah, melindungi tubuh dari berbagai infeksi dan menjaga cairan yang ada di dalam tubuh manusia agar dalam keadaan yang seimbang. ( Baca juga 
  1. Diabetes
Diabetes merupakan kondisi dimana kadar gula yang terdapat pada tubuh manusia melebihi kadar normal rata rata manusia. Keadaan ini yang menyebabkan rusaknya ginjal sehingga ginjal gagal melakukan proses filtrasi. (Baca juga : kelainan ginjal )
  1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal pula. ( Baca juga : ginjal polikistik )
  1. Pre eklampsia
Pre eklampsia dan hipertensi gestasional terjadi pada wanita yang sedang hamil. Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang terjadi pada ibu hamil. ( Baca juga : tanda awal gagal ginjal )
  1. Daya tahan tubuh yang lemah
Sistem imun yang lemah akan membuat bakteri dan virus dengan mudah menyerang ginjal. Sehingga yang terjadi adalah rusaknya ginjal dan beberapa fungsi ginjal tidak bekerja dengan baik. ( Baca juga : macam macam penyakit ginjal )
  1. Kurangnya cairan
Kurangnya cairan dalah tubuh menyebabkan terjadinya dehidrasi yang menyebabkan penumpukkan protein di dalam ginjal sehingga tidak mampu diproses dengan baik oleh ginjal. ( Baca juga : penyebab radang ginjal )
  1. Kurangnya protein
Protein yang masuk ke dalam tubuh manusia jumlahnya di bawah jumlah yang dibutuhkan tubuh. Sementara, Vitamin C dan kalsium jumlahnya terlalu melimpah sehingga dapat merusak glomerulus. ( Baca juga : ciri ciri ginjal bocor )
  1. Obat obatan
Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai obat apa saja yang dapat dikonsumsi dengan aman dan tidak menyebabkan alergi pada tubuh. Bagi sebagian orang mereka terkena alergi apabila mengonsumsi obat yang mengandung zat zat tertentu.

Ciri ciri Albuminuria

  1. Urin mengandung protein
Urin yang mengandung protein biasanya ditandai oleh warna urin yang berubah menjadi keruh, adanya nanah ketika buang air kecil, dan memiliki bau yang menusuk. ( Baca juga : ciri ciri penyakit batu ginjal )
  1. Nyeri pinggang
Ketika mengalami penyakit ginjal maka bagian yang paling merasakan sakit ialah pinggang. Karena ginjal berada di bagian belakang atas kanan dan kiri tubuh manusia. Nyeri pinggang terjadi karena jaringan penyaringan cairan dalam ginjal mengalami kerusakan. ( Baca juga : ciri ciri ginjal sehat )
  1. Pembengkakan pada bagian tubuh
Pada orang yang terkena Albuminuria akan mengalami pembengkakan yang terjadi pada beberapa anggota tubuh. Pembengkakan ini terjadi karena adanya cairan yang menumpuk pada ginjal.( Baca juga : penyebab ginjal bengkak )
  1. Tubuh cepat lelah
Albuminuria menyebabkan tubuh kekurangan protein, kekurangan protein ini menyebabkan tubuh lebih gampang lelah dan letih. ( Baca juga : ciri ciri ginjal rusak )
  1. Pembengkakan pada perut
Pembengkakan pada perut terjadi karena adanya kerusakan atau ketidaknormalan yang terjadi pada proses eskresi. Metabolisme yang terjadi di dalam tubuh tidak berjalan dengan baik dan menyebabkan pembengkakan yang terjadi pada perut. ( Baca juga :  cara mengobati batu ginjal)
  1. Pembengkakan pada kaki
Pembengkakan pada kaki bisa menandakan adanya penyakit yang menyerang tubuh manusia. Misalnya penyakit jantung dan ginjal atau bisa juga penyaki penyakit lainnya. Selain hal ini dapat menganggu aktivitas sehari hari, pembengkakan pada kaki juga harus diperiksa dengan segera ke dokter untuk mengetahui adakah penyakit lain yang bersarang di dalam tubuh. ( Baca juga : penyebab ginjal mengecil )
  1. Pembengkakan pada wajah
Pembengkakan pada wajah sangat menganggu pada sebagian besar orang. Selain itu rasa sakit yang diderita juga membuat badan merasa tidak enak. Pembengkakan pada wajah dapat terjadi karena kenaikan berat badan, sakit gigi atau albuminuria. ( Baca juga : makanan penyebab sakit ginjal )
  1. Pembengkakan pada tangan
Pembengkakan pada tangan bisa menjadi tanda terjadinya asam urat atau juga albuminuria.
  1. Tidak ada gejala khusus
Pada sebagian orang yang terkena Albuminuria bisa jadi mereka tidak memiliki tanda tanda khusus. Mereka baru mengetahui mereka terkena Albuminuria ketika mereka datang ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pencegahan Albuminuria

  1. Minum air putih yang cukup
Dalam sehari manusia minimal mengonsumsi air putih paling sedikit 8 gelas sehari. Kurangi minuman alkohol dan berasa untuk menstabilkan kadar albumin yang ada dalam tubuh untuk menghidari penyakit Albuminuria.
  1. Mengonsumsi buah buahan berserat
Mengonsumi buah buahan sangat baik untuk tubuh agar tubuh terasa sehat dan segar. Buah buahan yang berserat seperti apel dan anggur baik untuk mencegah terjadinya kelebihan zat protein di dalam tubuh manusia sehingga fungsi ginjal dapat berlangsung dengan baik.
  1. Kurangi makan garam
Garam ternyata dapat menganggu fungsi ginjal dalam mengendalikan cairan yang ada dalam tubuh.

Pengobatan albuminuria

  1. Melakukan pengontrolan kadar gula dalam tubuh
Albuminuria dapat terjadi karena diabetes. Untuk mengurangi risiko Albuminuria semakin parah maka cara yang bisa dilakukan adalah mengontrol kadar gula yang ada didalam darah. Untuk mengontrol darah ini biasanya dokter menyarankan pasien untuk melakukan diet, olahraga yang cukup dan makan makanan yang mengandung sedikit gula dan juga dengan mengonsumsi obat untuk menekan kadar gula dalam darah
  1. Ace inhibitor
Ace inhibitor biasanya direkomendasikan untuk orang yang memiliki hipertensi. Para penderita yang terkena Albuminuria dikarenakan hipertensi disarankan untuk menjaga tekanan darah mereka pada angka dibawah 140/90 mmHg.
  1. Penggunaan diuretik dosis
Diuretik dosis digunakan untuk mengurangi jumlah albumin dalam tubuh dan dilakukan secara berulang agar kadar albumin dalam keadaan normal.
  1. Terapi steroid
Terapi ini digunakan untuk mengurangi kadar protein dalam urin
Albuminuria merupakan salah satu penyakit ginjal yang seringkali membuat tubuh penderita lemah karena kekurangan protein. Kekurangan protein ini terjadi karena gagalnya fungsi ginjal dalam menyaring zat zat yang masih berguna bagi tubuh. Hal hal yang dapat membuat tubuh kita terhindar dari  Albuminuria ialah minum yang cukup dan juga menjaga berat badan.
Hasil gambar untuk albuminuria


https://ahliginjal.com/albuminuria

jerawat

Jerawat

Jerawat adalah masalah kulit yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, punggung, dan dada. Bintik-bintik tersebut dapat berkisar mulai dari yang ringan, seperti komedo hitam dan komedo putih, hingga bintik-bintik parah yang berisi nanah dan kista. Biasanya bintik-bintik yang tergolong parah tersebut akan meninggalkan bekas luka.

Selain ditandai dengan gejala-gejala seperti kulit berminyak dan munculnya bintik-bintik, kadang-kadang jerawat juga menyebabkan kulit terasa panas dan sakit saat disentuh. Ada beberapa bagian pada tubuh yang biasa ditumbuhi jerawat dan yang paling umum adalah wajah. Jerawat merupakan kondisi yang umum, artinya sebagian besar orang pernah mengalaminya
Sebagian besar kasus jerawat terjadi pada seseorang yang berusia di bawah 28 tahun. Terutama bagi remaja, mereka sangat rentan terkena jerawat pada usia 14-19 tahun.
Meskipun jerawat dapat menghilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan usia, namun pada sebagian kasus, masih ada yang mengalami masalah jerawat di pertengahan usia 20-an. Wanita usia 20-an tahun lima kali lebih berisiko mengalami hal tersebut dibandingkan pria usia 20-an tahun.

Faktor-faktor penyebab jerawat

Jerawat bisa muncul pada usia berapa pun, namun perubahan kadar hormon selama masa puber kerap dikaitkan dengan penyebab-penyebabnya. Perubahan hormon tersebut berdampak kepada kelenjar penghasil minyak atau sebum yang letaknya dekat dengan folikel rambut di kulit.
Peningkatan aktivitas kelenjar ini menyebabkan produksi sebum pada wajah juga bertambah. Jadi tumpukan sebum ini nantinya akan bergabung dengan kotoran dan sel kulit yang mati, kemudian menyumbat pori-pori.
Pada saat pori-pori tersumbat dan dengan banyaknya sebum pada permukaan kulit, bakteri yang disebut Propionobacterium acnes berkembang dengan cepat. Bakteri ini merupakan bakteri penyebab jerawat. Propionobacterium acnes melepaskan semacam zat iritan yang akan mengiritasi kulit. Efek dari iritasi inilah yang menyebabkan kulit memerah dan membengkak, disamping itu juga menyebabkan timbulnya nanah di balik kulit.
Lapisan dalam folikel rambut juga menebal akibat perubahan kadar hormon dan menyebabkan tersumbatnya pori-pori kulit. Penyumbatan pori-pori ini tidak akan hilang, meski kulit telah dibersihkan.
Selain pada masa puber, jerawat juga bisa dialami para wanita akibat perubahan hormon yang terjadi selama siklus menstruasi dan masa kehamilan. Jerawat juga diketahui sebagai faktor keturunan. Kemungkinan besar seseorang akan memiliki jerawat jika kedua orang tua berjerawat juga.
Hingga kini belum ada bukti bahwa jerawat disebabkan oleh aktivitas seksual, makanan, atau buruknya kebersihan.

Diagnosis jerawat

Dokter biasanya mampu mendiagnosis jerawat hanya dengan melihat kulit penderita secara langsung. Melalui pemeriksaan, dokter dapat menentukan jenis jerawat yang tumbuh serta mengukur tingkat keparahannya (tingkat peradangan dan jumlah jerawat). Setelah diagnosis dilakukan, barulah rencana penanganan bisa dibuat.

Tindakan yang tepat dilakukan jika memiliki jerawat

Penting untuk menjaga kebersihan kulit di area yang berjerawat, meski itu tidak akan mencegah munculnya jerawat baru. Basuh area tersebut dua kali sehari dengan menggunakan pembersih atau sabun wajah. Agar tidak mengalami iritasi, jangan menggosok kulit terlalu keras.
Kini sebagian besar produk pelembap telah melalui tahap pengujian agar tidak menimbulkan komedo atau jerawat. Gunakan pelembap jika kulit Anda kering dan hindari memakai produk kecantikan yang dapat menyumbat pori-pori kulit.
Meski jerawat tidak bisa disembuhkan, namun masih bisa dikendalikan melalui pengobatan. Obat-obatan berbentuk gel, pelembap, dan krim kini sudah banyak tersedia di apotek. Jika memiliki jerawat, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter, terutama jika penggunaan obat yang dijual bebas di pasaran tidak membuahkan hasil atau bahkan justru menimbulkan efek samping seperti:
  • Pembengkakan pada wajah, mata, bibir, atau lidah.
  • Radang tenggorokan dan sesak napas.
  • Pingsan.
Umumnya dokter menyarankan penggunaan produk yang mengandung konsentrat benzoil peroksida rendah. Namun berhati-hatilah dalam menggunakannya karena pada bidang industri, konsentrat tersebut juga digunakan sebagai bahan pemutih pakaian.
Anda mungkin membutuhkan antibiotik atau krim yang lebih kuat jika jerawat Anda tergolong parah dan timbul pada sejumlah bagian tubuh, seperti dada dan punggung. Ingatlah bahwa penggunaan obat tersebut tetap harus melalui resep dokter.

Komplikasi jerawat

Tanyakan kepada dokter jika pertumbuhan jerawat makin parah. Jika jerawat parah tidak segera ditangani, dikhawatirkan bisa menimbulkan komplikasi berupa bekas luka. Selain itu, disarankan untuk menemui dokter jika obat yang digunakan tidak bisa mengendalikan pertumbuhan jerawat sehingga menjadikan Anda tidak percaya diri serta depresi.
Pengobatan jerawat membutuhkan kesabaran. Tidak disarankan untuk memencet jerawat karena akan meninggalkan bekas luka permanen. Biasanya pengobatan akan menunjukkan hasil optimal dalam tiga bulan.
http://www.alodokter.com/jerawat
►

- Copyright © Curhatan Pelajar - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -